MATARAM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bekerja sama dengan Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar simulasi evakuasi mandiri bencana gempa bumi di SMAN 1 Mataram pada Kamis (22/10/2026). Kegiatan ini melibatkan seluruh siswa, guru, serta staf sekolah guna meningkatkan kapasitas dan kesiapsiagaan warga sekolah dalam menghadapi ancaman bencana alam.
Simulasi dimulai tepat saat kegiatan belajar mengajar (KBM) sedang berlangsung di dalam kelas. Skenario bencana diawali dengan bunyi sirene panjang yang menandakan terjadinya gempa bumi berkekuatan cukup besar.
Mendengar tanda peringatan tersebut, para guru langsung menginstruksikan siswa untuk tidak panik dan menerapkan prosedur penyelamatan diri dasar. Para siswa dengan sigap berlindung di bawah meja masing-masing untuk melindungi kepala dari potensi reruntuhan atap maupun benda-benda yang jatuh.
Setelah guncangan disimulasikan mereda, petugas membunyikan tanda evakuasi. Dengan tertib, para guru memandu ratusan siswa keluar dari ruang kelas menuju titik kumpul (assembly point) yang berada di lapangan terbuka sekolah. Selama bergerak menyusuri koridor dan tangga, para siswa tampak melindungi kepala menggunakan tas atau buku tebal sambil berjalan cepat tanpa saling dorong.
Selain evakuasi mandiri, simulasi ini juga memperagakan penanganan kondisi darurat pascagempa. Tim tanggap darurat sekolah yang terdiri dari anggota Palang Merah Remaja (PMR) dan guru terlatih melakukan penyisiran ke ruang-ruang kelas, mengevakuasi siswa yang diskenariokan mengalami luka-luka, serta memberikan pertolongan pertama di pos medis darurat.
Perwakilan BPBD Provinsi NTB menyampaikan bahwa wilayah NTB merupakan salah satu daerah dengan tingkat kerawanan gempa bumi yang cukup tinggi. Oleh karena itu, edukasi kebencanaan di lingkungan sekolah menjadi prioritas utama dalam mewujudkan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
Senada dengan hal tersebut, tim dari Pusdiklat BNPB menekankan bahwa pelatihan langsung seperti ini sangat efektif untuk membangun refleks dan memori otot (muscle memory) para siswa serta tenaga pendidik. Pengetahuan teori mengenai mitigasi bencana harus diimbangi dengan praktik nyata agar warga sekolah memahami jalur evakuasi dan pembagian peran saat situasi kritis terjadi.
Pihak SMAN 1 Mataram menyambut baik pelaksanaan simulasi ini dan berkomitmen untuk terus memperbarui prosedur tetap (protap) kebencanaan di lingkungan sekolah. Kegiatan ditutup dengan sesi evaluasi bersama di lapangan sekolah, di mana tim Pusdiklat BNPB dan BPBD NTB memberikan catatan serta apresiasi atas ketertiban dan kecepatan waktu respons seluruh peserta selama simulasi berlangsung.